Bandung, InBewara,- Sejumlah Pengurus Provinsi (Pengprov) Cabang Olahraga (Cabor) di bawah Komite olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Barat mengungkap masalah menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jabar XV/2026.
Kegiatan even besar Porprov XV itu dijadwalkan berlangsung pada 7-20 November 2026 di Kota Bekasi, Kota Bogor, dan Kota Depok, selaku tuan rumah utama.
Di tengah persiapan, kondisi yang dihadapi sekarang adalah anggaran keuangan yang menjadi masalah utama.
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI )Jabar menggelar Diskusi Publik bertema : “Mengawal Arah Kebijakan Olahraga Jabar ” yang berlangsung di Aula PWI Jawa Barat, Rabu (29 /4/2026).
Mengawal arah kebijakan olahraga di Jawa Barat itu bukan sekadar ‘ikut kegiatan olahraga’, tapi masuk ke ranah kebijakan publik, tata kelola, dan advokasi. Ada beberapa pintu strategis yang bisa ditempuh, baik dari sisi masyarakat, akademisi, maupun praktisi olahraga
Di Jawa Barat arak kebijakan olahraga tidak berdiri sendiri tapi di topang perda No 1, 2015 tentang penyelenggaraan keolahragaan , jadi dasar hukum utama pengelolaan olahraga di daerah.
Program nasional seperti Design Besar Olahraga Nasional (DBON) yang memberi jangka panjang dan terintegrasi, bagaimana pembinaan program nasional ini terus berkembang
Empat nara sumber yang menjadi pembicara yaitu Asisten Deputi Pengelolaan Jasa, Sarana, dan Prasarana Olahraga Kemenpora, Tri Winarno; Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jabar, Hery Antasari; Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Amung Ma’mun; dan pelatih taekwondo, Taufik Krisna. Yang dipandu sebagai moderator diskusi adalah Kesit Budi Handoyo, wartawan olahraga.
Ketua Umum Persatuan Angkat Berat Seluruh Indonesia/Persatuan Binaraga dan Fitness Seluruh Indonesia (PABERSI) Jabar, Sugito menyampaikan kegalauannya hingga saat ini cabor belum memperoleh Bantuan Operasional Kegiatan (BOK) dari KONI Jabar, karena KONI sendiri belum memperoleh dana hibah dari Pemprov Jabar.
“Kita sangat berharap bantuan bisa segera dicairkan Pemprov Jabar. Hal itu agar KONI Jabar bisa segera memberikan bantuan ke cabor,” katanya.
Hal yang sama disampaikan juga Ketua Harian Federasi Arung Jeram (FAJI) Jabar, Sorta Mina mempertanyakan dukungan pemerintah. Karena tanpa dana pembinaan, mustahil prestasi akan terwujud. Terlebih, olahraga arung jeram berbeda dengan olahraga lain seperti voli sehingga sulit mencari sponsor.
“Sampai saat ini, dana yang paling besar, kami mengandalkan bantuan dari KONI Jabar,” ungkapnya.
Walau begitu, pelaksanaan Porprov 2026, pihaknya siap bekompetisi dan meraih mendali.
“Apa pun yang terjadi akan maju pantang menyerah. Tapi, tetap sarana-prasarana merupakan faktor yang paling mendukung,” tegasnya.
Sementara Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar, Hery Antasari menegaskan, bahwa mengenai masalah anggaran tidak hanya terjadi di Jabar, tetapi di seluruh Indonesia karena terkait efisiensi.
“Khusus di Jawa Barat, bukan mengecilkan olahraga atau multievent, tapi sekarang permasalahan adanya prioritas yang sedang diusung pemerintah provinsi yang bisa langsung dirasakan masyarakat,” Kata Hery.
Pihaknya berharap dalam beberapa tahun ke depan, termasuk olahraga, akan menjadi lebih baik.
“Biasanya di tengah-tengah tantangan kreativitas akan muncul dalam menggali sumber pendanaan untuk olahraga,” katanya.
Mengenai dana hibah, Hery mengatakan, sedang dalam diproses, termasuk untuk KONI segera dicairkan.
Hibah untuk KONI pada tahun ini sebesar Rp 20 miliar. Sedangkan pencairan dana untuk Porprov, Hery belum bisa memastikan berapa yang akan diberikan
“Mudah-mudahan cepat. Kalau menurut rencana sih Mei harusnya sudah dilaksanakan,” ungkapnya
Meski begitu, dirinya menekankan, Porprov 2026 akan dilaksanakan dengan persiapan “on the track”.
“Kita masih terus bekerja dan berjalan sesuai dengan yang telah kita rencanakan. Ujung-ujungnya kalau bisa hattrick (juara PON), kenapa enggak. Kalau dengan keadaan kita, bisa berprestasi, kenapa tidak,” usai wawancara dengan wartawan media.
Di luar itu, Hery mengatakan, indikator kinerja utama gubernur yang ada di Dispora Jabar itu bukan olahraga tetapi indeks pembangunan pemuda.
Sedangkan mengenai olahraga, bukan cuma olahraga prestasi yang ada di bawah KONI, juga olahraga kemasyarakatan, misal senam dan budaya.
“Semua itu harus diperhatikan pemerintah,” tegasnya.
***(DIN)
