Dr. Buky Wibawa Karya Guna Terpilih Aklamasi Pimpin PSSI Jawa Barat 2026–2030, Jabar Siap Perkuat Barometer Sepak Bola Indonesia

Sekjen PSSI Pusat Yunus Nusi memukul goong tanda resmi dibukanya pemilihan ketua PSSI Provinsi Jabar 2026-2030 di Hotel Horison Ultima Bandung Jln.Pelajar Pejuang No 45 Bandung, Sabtu (17/10/2026). Foto Dok Himas

Bandung, In-bewara — Dr. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si., yang akrab disapa Wikague, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat periode 2026–2030.

Pemilihan tersebut berlangsung dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Pemilihan Ketua PSSI Jawa Barat di Hotel Horison Ultima Bandung, Jalan Pelajar Pejuang Nomor 45, Kota Bandung, Sabtu (17/10/2026).

Buky terpilih secara aklamasi setelah dua kandidat lainnya, Farhan dan Tommy, mengundurkan diri. Dari total 97 pemilik suara (voter) yang diundang, sebanyak 87 pemilik suara hadir dalam kongres, sedangkan 10 lainnya tidak hadir.

Terpilihnya Buky menjadi momentum penting bagi sepak bola Jawa Barat untuk memperkuat pembinaan, meningkatkan kualitas kompetisi, serta mengoptimalkan kontribusi pemain daerah bagi tim nasional Indonesia.

Kongres Berjalan Sesuai Statuta PSSI

Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Asprov PSSI Jawa Barat, Vivin Cahyani, menyampaikan bahwa seluruh tahapan kongres telah dilaksanakan sesuai dengan statuta PSSI dan ketentuan yang berlaku.

Rangkaian kegiatan meliputi persetujuan tata tertib dan agenda kongres, pengesahan petugas penghitung suara serta pemeriksa berita acara, serah terima pimpinan sidang kepada Ketua Komite Pemilihan, pengesahan calon ketua, penetapan kehadiran pemilik suara, hingga serah terima kepemimpinan kepada ketua terpilih periode 2026–2030.

Vivin mengaku bangga dapat menjalankan amanah sebagai Plt. Ketua Asprov PSSI Jawa Barat selama kurang lebih satu tahun.

Menurutnya, pengalaman tersebut memperlihatkan besarnya potensi dan dukungan para anggota serta pemangku kepentingan dalam memajukan sepak bola di Jawa Barat.

Ia berharap berbagai program yang telah berjalan selama masa kepemimpinannya dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh pengurus baru, baik dalam pembinaan sepak bola usia dini, kompetisi, maupun futsal.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan sangat baik untuk PSSI Jawa Barat. Kantor PSSI sekarang terasa lebih hangat, dan insyaallah akan semakin baik di bawah kepemimpinan ketua terpilih yang baru,” ujar Vivin.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan pembinaan sepak bola akar rumput sebagai salah satu fondasi untuk melahirkan pemain-pemain berkualitas dari Jawa Barat.

PSSI Pusat Berharap Sepak Bola Jabar Semakin Maju

Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, turut menyampaikan ucapan selamat kepada Buky atas kepercayaan yang diberikan untuk memimpin PSSI Jawa Barat selama empat tahun ke depan.

Yunus berharap kepengurusan baru mampu membawa sepak bola Jawa Barat semakin maju melalui program pembinaan yang terarah, penguatan kompetisi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sepak bola.

Menurutnya, Jawa Barat memiliki peran strategis dalam perkembangan sepak bola nasional karena selama ini menjadi salah satu daerah yang menyumbangkan banyak pemain berkualitas untuk memperkuat tim nasional Indonesia.

Ia menilai kontribusi para pemain asal Jawa Barat merupakan aset penting yang harus terus dijaga melalui pembinaan berjenjang dan kompetisi yang berkesinambungan.

Yunus juga berharap hasil kongres yang berlangsung secara aklamasi dapat menjadi landasan untuk menjaga suasana kondusif, memperkuat persatuan, dan membangun kolaborasi di lingkungan sepak bola Jawa Barat.

Ke depan, sejumlah program menjadi perhatian, mulai dari penyelenggaraan liga amatir, pelatihan pelatih, hingga pengembangan kompetisi di berbagai kelompok usia.

“Sepak bola mampu membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Karena itu, kami berharap sepak bola Jawa Barat semakin berjaya dan terus memberikan kontribusi terbaik bagi tim nasional Indonesia,” ujarnya.

Buky Siapkan Sinkronisasi Program hingga Tingkat Desa

Usai terpilih, Buky Wibawa Karya Guna menegaskan bahwa amanah sebagai Ketua PSSI Jawa Barat merupakan tanggung jawab besar, terlebih setelah Farhan dan Tommy memutuskan mengundurkan diri dari pencalonan.

Menurut Buky, kepercayaan yang diberikan kepadanya harus dijawab melalui kerja bersama, komunikasi yang kuat, serta komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan sepak bola Jawa Barat.

Ia menyebut pemilihan secara aklamasi sebagai momentum untuk memperkuat kebersamaan dan menyatukan visi dalam membangun sepak bola daerah.

“Ini menjadi sejarah baru dalam pemilihan Ketua PSSI Jawa Barat. Kebersamaan untuk memajukan sepak bola harus terus dijaga. Kami akan melakukan sinkronisasi dan komunikasi dengan PSSI pusat agar program yang dijalankan di daerah sejalan dengan kebijakan nasional,” kata Buky.

Ia menekankan pentingnya keselarasan program antara PSSI pusat dan daerah.

Menurutnya, standar pembinaan harus diterapkan secara konsisten, sementara pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah.

Buky mengibaratkan sinkronisasi tersebut seperti sistem waralaba restoran KFC, yang mempertahankan standar dasar yang sama di setiap daerah, meskipun terdapat penyesuaian pada aspek tertentu.

Dalam konteks sepak bola, prinsip tersebut berarti program pembinaan, peningkatan kualitas pelatih, dan pengembangan kompetisi harus memiliki standar yang jelas agar dapat diterapkan secara berkelanjutan hingga tingkat desa.

Perkuat Kualitas Pelatih dan Infrastruktur Sepak Bola

Buky memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kualitas pelatih, ketersediaan lapangan, serta perluasan kompetisi bagi pemain usia dini.

Ia mengapresiasi program kepelatihan yang telah dilaksanakan selama masa kepemimpinan Plt. PSSI Jawa Barat. Berdasarkan data yang disampaikan dalam kongres, program tersebut telah menghasilkan sekitar 2.500 pelatih bersertifikat atau berlisensi.

Ke depan, jumlah dan kualitas pelatih tersebut diharapkan terus meningkat sehingga pembinaan dapat menjangkau lebih banyak wilayah di Jawa Barat.

Selain kepelatihan, Buky juga menyoroti pentingnya pengembangan sarana dan prasarana sepak bola. Ia mendorong realisasi gagasan satu desa satu lapangan sepak bola sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas olahraga.

Menurutnya, ketersediaan lapangan harus diikuti dengan peningkatan kualitas pelatih dan penyelenggaraan kompetisi yang teratur.

Sejumlah program yang menjadi perhatian antara lain liga desa, liga pesantren, liga pelajar, turnamen usia dini, serta berbagai kompetisi lain yang dapat menjadi wadah bagi pemain muda untuk mengembangkan kemampuan.

Buky menilai pemain usia dini perlu mendapatkan kesempatan bermain dan berlatih secara konsisten agar kemampuan teknik, pemahaman permainan, serta mental bertanding dapat berkembang sejak awal.

“Sepak bola harus dekat dengan kehidupan anak-anak sejak usia dini. Mereka harus terbiasa berlatih, bermain, dan terus berinteraksi dengan bola sehingga kemampuan serta kecintaan terhadap sepak bola tumbuh secara alami,” tuturnya.

Perkuat Komunikasi dengan Pemerintah Daerah Untuk merealisasikan program tersebut,

Buky menegaskan pentingnya komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota. Ia berencana menjalin komunikasi dengan para kepala daerah serta melihat secara langsung kondisi dan perkembangan sepak bola di masing-masing wilayah.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memetakan kebutuhan pembinaan, ketersediaan fasilitas, serta potensi pemain yang dapat dikembangkan.

“Pembangunan sepak bola tidak dapat dilakukan oleh PSSI semata, melainkan membutuhkan dukungan pemerintah daerah, klub, sekolah, pesantren, pelatih, komunitas, dan masyarakat,” kata Buky

“Program pembinaan harus dijalankan secara berkesinambungan, bukan secara parsial atau terputus-putus. Sinkronisasi program hingga tingkat desa dinilai penting agar pembinaan dapat berlangsung dari akar rumput sampai jenjang profesional, tegas Buki

Jejak Historis dan Kontribusi Jawa Barat

Buky turut menyinggung perjalanan historisnya di dunia sepak bola, termasuk keterkaitannya dengan POR UNI 1903, klub yang disebutnya telah berusia lebih dari satu abad dan menjadi bagian dari sejarah sepak bola Indonesia.

Ia menilai sejarah panjang klub-klub di Jawa Barat merupakan modal penting untuk membangun ekosistem sepak bola yang kuat, sekaligus melanjutkan tradisi daerah dalam melahirkan pemain-pemain berkualitas.

Bagi Buky, Jawa Barat memiliki posisi strategis dalam peta sepak bola nasional. Karena itu, potensi pemain, klub, pelatih, dan kompetisi daerah perlu dikelola secara terencana agar mampu menghasilkan prestasi yang berkelanjutan.

Dengan kepemimpinan baru periode 2026–2030, PSSI Jawa Barat diharapkan dapat memperkuat pembinaan dari tingkat desa, meningkatkan kualitas kompetisi, memperluas kesempatan bagi pemain muda, serta menjaga kontribusi Jawa Barat bagi tim nasional Indonesia.

Terpilihnya Buky secara aklamasi menjadi awal dari tanggung jawab besar untuk menyatukan seluruh elemen sepak bola Jawa Barat. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan dukungan dalam kongres menjadi program nyata, terukur, dan berkelanjutan demi menjadikan Jawa Barat tetap sebagai salah satu barometer sepak bola Indonesia.

(Humas)***