Pengaruh Green Leadership dan Green Knowledge Sharing Terhadap Iklim Kerja Ramah Lingkungan serta Implikasinya pada Kinerja Lingkungan

Bandung InBewara, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pasundan (STIEPAS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait penelitian Hibah Kemdiktisaintek berjudul “Pengaruh Green Leadership dan Green Knowledge Sharing Terhadap Iklim Kerja Ramah Lingkungan serta Implikasinya pada Kinerja Lingkungan”, di Kampus STIEPAS, Jalan Turangga, Bandung. Senin (10/11/2025),

Kegiatan ini dihadiri Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIEPAS, Dr. Iwan Sidharta, M.M., serta dua narasumber praktisi industri kreatif hijau: Dodi Anshari, S.E., M.M. (Founder Brand RTSR Kota Bandung) dan Ratih, S.E. (Co-Founder Brand RTSR).

Hadir pula tim pelaksana penelitian: R. Okky Satrya, S.E., M.M.; Ashila Dwiyanisa, S.M.B., M.M.; Octaviane Herawati, S.E.; Adinda Nuraini; Muhammad Wildan Nugroho, serta para mahasiswa anggota tim lainnya.

Ketua Pelaksana Penelitian Prof. Dr. Ester Manik, M.M, menyerahkan cinderamata kepada Dodi Anshari, S.E., M.M usai Acara FGD di kampus Stiepas Jln.Turangga Bandung, Senin (10/11/2025). Foto: Ester

Ketua Pelaksana Penelitian, Prof. Dr. Ester Manik, M.M., membuka FGD dengan memaparkan hasil sementara penelitian yang menyoroti peran kepemimpinan hijau dalam menciptakan perilaku kerja ramah lingkungan.

Para narasumber menegaskan bahwa green transformational leadership memiliki kontribusi signifikan dalam mendorong perilaku pro-lingkungan di tempat kerja.

Kepemimpinan transformasional berorientasi hijau dinilai mampu meningkatkan green intrinsic motivation—yakni kesadaran dan nilai internal tentang pentingnya kelestarian lingkungan—serta green extrinsic motivation melalui pemberian insentif atau penghargaan bagi perilaku ramah lingkungan.

Kepemimpinan yang efektif juga diyakini dapat mendorong kreativitas karyawan, terutama dalam mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai ekonomi. Dalam konteks ini, budaya hijau (green culture) berfungsi memperkuat hubungan antara kepemimpinan dan perilaku lingkungan karyawan.

Selain aspek kepemimpinan, diskusi menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mendukung praktik keberlanjutan.

Optimalisasi marketplace dan e-commerce dipandang strategis untuk memperluas pasar produk ramah lingkungan, sementara penggunaan AI dinilai meningkatkan efisiensi dalam desain, pemasaran, dukungan teknologi, hingga proses produksi.

Penerapan sistem paperless, termasuk penggunaan digital invoice, menjadi contoh konkret efisiensi menuju green office. Dari sisi sosial, kolaborasi antar karyawan dalam mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai tambah dianggap sangat penting bagi keberlanjutan industri kreatif.

“Perusahaan perlu konsisten menumbuhkan motivasi karyawan dalam menerapkan prinsip hijau, serta memastikan proses produksi berjalan secara bertanggung jawab dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar Prof. Ester.

Komitmen terhadap prinsip reuse, reduce, dan recycle (3R) ditegaskan sebagai fondasi utama produksi berkelanjutan. Secara keseluruhan, FGD ini menunjukkan pentingnya integrasi antara kepemimpinan hijau, motivasi karyawan, kolaborasi sosial, serta pemanfaatan teknologi digital dalam membangun organisasi yang berorientasi pada keberlanjutan.

Temuan dan diskusi ini diharapkan menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan yang lebih aplikatif dan relevan dengan perkembangan industri hijau di era digital.

***(DIN)